Senin, 08 Desember 2014

SUBMERSIBEL

Jangan remehkan ban serep,
Musim kemarau yang berkepanjangan tahun 2014 membuat kran air jadi susah mengalir, akibatnya pompa air sumur jadi sering rewel (apa terbalik ya mikirnya), tapi ndak papalah siapa peduli dengan alur berpikir, memang lakon hidup kadang mbulet.
Bagi anda yang kebetulan jadi seksi perlengkapan di sebuah lembaga dengan jumlah penduduk lumayan banyak, semisal : sekolah, pondok pesantren, hotel, atau apalah namanya; urusan air adalah nomor satu, dan menjaga agar zat yang satu ini tetap mengalir lancar adalah gampang gampang susah. Baru terasa di saat kemarau seperti sekarang.
Submersibel atau pompa celup belakangan jadi pilihan banyak orang, bisa jadi karena sudah 'tekan jamane' dimana permukaan air tanah terus menurun, akibat terus bertambahnya jumlah penduduk, dan pompa air konvensional tak mampu menjangkau kedalaman yang diharapkan.
Bagi anda yang kebetulan punya kasus serupa dengan yang kami alami atau ada rencana menggunakan pompa celup, submersibel; mari kita berbagi pengalaman.
Lembaga sekolah tempat kami bernaung punya jumlah penduduk yang sehari hari  membutuhkan air hampir 1.000 jiwa, bahkan dihari hari tertentu bisa lebih.  Musim kemarau tahun ini ketika sedang puncaknya bulan Nopember, pompa air jetpump beberapa kali rewel, banyak orang kelabakan, bau tak sedap dari kamar kecil berhamburan kemana mana, beruntunglah tak bersamaan dengan sakit perut masal.
Berawal dari pengalaman itu maka perlu membuat satu lagi sumur pompa baru dengan kedalaman yang sekiranya dapat disedot beberapa puluh tahun kedepan, walaupun dengan biaya lumayan banyak. Submesibel jadi pilihan, disamping debitnya lumayan besar sekitar 50m3/menit, tidak bising, dan tak banyak makan tempat.
 
Selesai pengeboran pompa Submersibel akan dimasukkan
Jasa penggali sumur bor pun segera diundang, pengalaman saya memanfaatkan jasa orang ini dengan mengebor sumur kedalaman 40 - 50 meter untuk mengairi sawah hanya perlu waktu 1-2 hari saja, air sudah mengalir lancar dari pipa 4". Tapi kejadian di sini lain ternyata perlu waktu 7 hari untuk menggali, karena struktur tanahnya yang beda, maklumlah kami bukan dukun yang bisa menerawang titik galian sumur dengan persis, hanya asal tunjuk saja, demi kepraktisan instalasi pipa air. Ketika si tukang gali bilang walaupun kedalaman galian 50m, tapi nanti yang dipasang pipa paralon untuk casing hanya sedalam 24m (6 lonjor) saya ikut saja, soalnya pengalaman yang sudah sudah bahkan hanya 3 lonjor sudah cukup atau setara 18m .
Dari sinilah kesulitan pekerjaan dimulai,
Hari ketujuh penggalian sedalam 50m sudah dicapai, sumur sudah dikuras dengan mesin pompa milik tukang yang sudah butut, kenyataannya air tak bisa bersih benar, karena masih bercampur pasir. Walaupun begitu Pompa sibel segera dipasang. Beberapa saat air mau mengalir bercampur lumpur, namun sebentar kemudian air mampet, dugaan kami pompa sibel macet. Pompa ditarik, coba dihidupkan, dan memang benar macet total. Sibel dicelupkan ke kolam dan dihidupkan, beruntung kotoran mau keluar.
Pompa Sibel mengeluarkan air bercampur pasir dan lumpur
Pompa sibel dimasukkan lagi ke sumur untuk yang ke dua kalinya.
Dihidupkan lagi, mancur lagi campur lumpur, macet lagi..., ditarik lagi..celupkan ke kolam lagi, keluar air bersih, celupkan lagi ke sumur, macet lagi. Payah...
Si tukang sumur jadi lemes dan pucat, alamat kerja sekian hari gagal, bakalan tak gajian, karena perjanjian kami cari air bersih, bukan cari lumpur.
Rundingan dimulai, tukang sumur bersedia membongkar ulang sumur yang telah digali dengan minta tambah upah, dan jika ternyata tak berhasil dia bersedia tak dibayar. Atau ganti lokasi galian, tanpa minta tambahan upah, dengan resiko ketemu lapisan tanah sejenis.
Dipikir pikir kedua opsi sama sama tak menariknya, maka diputuskan dikuras sekali lagi dengan kedalaman hanya sekitar 24m supaya runtuhan pasir tidak terangkat lagi, dan proses penggalian kami nyatakan dihentikan dengan menerima kondisi sumur bor apa adanya.
Kami baru sadar bahwa lapisan tanah disini dibagian dalam ada lapisan pasir dengan kedalaman sekitar 30 m, dan itu mestinya dibungkus dengan casing paralon minimal 8 lonjor.
Penampang Sumur Bor

Melihat kondisi lapisan tanah semacam itu maka kami putuskan menguras air campur pasir dengan cara sendiri, beruntung p. Fajar Sidik penjaga sekolah sangat telaten melakukan pekerjaan tersebut. 
Ritual pengurasan sumur diawali dengan menyediakan pompa air mesin bensin milik sendiri, dan itu masih lumayan bagus karena baru dipakai beberapa kali saja, so masih punya daya sedot lumayan kenceng. 

Air kayak gini masa' mau diminum ?

 Sedot air campur lumpur dimulai dari kedalaman 20m, karena pada titik ini tumpukan pasir lembut campur kerikil bersemayam. Sedikit demi sedikit kedalaman pipa sedot ditambah, dan penambahannya tiap hari hanya sekitar 30 cm saja, itu pun dengan beberapa kali nggak mau keluar air akibat pipa sedot masuk angin. Tanda-tandanya adalah ketika air sudah mulai bersih, nggak ada pasirnya maka kedalaman ditambah, demikian dilakukan berulang ulang. 
Proses pengeluaran pasir + lumpur tak hanya disedot, beberapa kali malahan dibalik, yakni dengan sistim sembur, artinya bukan air yang disedot dari dalam pipa sumur bor, tapi malahan air bersih dari bak penampung yang di semburkan kedalamnya, sehingga pasir/lumpur bisa terangkat keluar.
Pasir dari dalam sumur dengan kualitas yang sangat bagus, kaya kandungan besi

Pada kedalaman 24m proses sedot pasir/lumpur dinyatakan berhenti, karena pada kedalaman ini pipa casing paralon sudah sampai pada ujungnya, jika diteruskan percuma saja toh pasir di sekelilingnya akan runtuh terus.
Total proses sedot pakai pompa mesin kurang lebih makan waktu sekitar 15 hari, dan itu dikerjakan tiap hari. Bahkan pada 7 hari pertama pengerjaan dimulai selepas isya' hingga menjelang adzan subuh. Perjuangan yang lumayan berat, untung dikarunia badan sehat !
Bermalam malam berkutat dengan air campur lumpur
Air yang keluar dari mesin pompa bensin mulai bersih
 
Hari ke 15 air yang disedot sudah benar benar bersih. Pompa sibel coba dimasukkan lagi, dengan kedalaman sekitar 16m dan dicoba selama beberapa jam aman aman saja ndak ada pasir yang terangkat, mesin sibel juga ndak macet babar blas. Alkhamdulillah...
Untuk kesekian kalinya pompa sibel dimasukkan lagi






 
Air bersih sudah mengalir dari pompa sibel   


Hari ke 15 sudah sulit membedakan, mana air dari sumur lama, dan mana sumur baru

Kesimpulannya: meskipun kedalaman pengeboran sumur mencapai 50m bahkan lebih, jangan paksakan pompa sibel mendekati kedalaman itu, ingat kita mencari air bersih, bukan mencari lumpur. Jika pada kedalaman kurang dari itu air bersih sudah keluar, maka mau cari apa lagi dengan memasukkan pompa sibel dalam dalam ? 
Saat ini sumber air bersih dengan pompa sibel tinggal menunggu proses intalasi menuju ke tower air, itu bisa dilakukan belakangan, yang penting sudah ada cadangan sumber air bersih kedua jika sewaktu waktu sumur lama ada gangguan, itulah makanya "Jangan remehkan ban serep"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar